INFO TERKINI
28-10-2021
  • 4 bulan yang lalu / Pendaftaran Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2021/2022 (Jalur Zonasi) dimulai tanggal 28 Juni 2021
  • 4 bulan yang lalu / Pendaftaran Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2021/2022 (Jalur Afirmasi dan Perpindahan Tugas Orang Tua/Wali) dimulai tanggal 21 Juni 2021
2
Mar 2021
0
Menyiapkan Pendidikan Menuju Kenormalan Baru (Pembelajaran yang Berpihak pada Siswa Kita)

Akhir-akhir ini, normal baru (The New Normal) menjadi sebuah frasa yang begitu populer. Namun, ada pula yang menukargantikan istilah tersebut dengan beberapa istilah berikut ini: “tatanan kehidupan baru”, “adaptasi kebiasaan baru”, “transisi menyambut kenormalan baru”, dan “era permulaan baru”.

Pendidikan merupakan elemen yang sangat penting untuk menyiapkan generasi emas bangsa dalam menghadapi era globalisasi yang sangat cepat ini. Tentunya akan menjadi tantangan yang cukup berat jika tidak diimbangi dengan persiapan sumber daya manusia yang memiliki daya saing tinggi. Untuk itulah perlunya menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk generasi emas sebagai penerus kemajuan bangsa. Pendidikan di tengah wabah ini membuat dunia pendidikan tergoncangkan. Berbagai strategi dilakukan dari berbagai pihak agar tetap mempertahankan kualitas pendidikan yang baik.

“Kenormalan baru” atau “new normal” ini bukan berarti siswa dipersiapkan kembali bersekolah, namun membantu menyiapkan siswa agar mampu beradaptasi dengan situasi belajar di tengah wabah Covid-19. Lalu apa yang perlu kita bantu agar siswa lebih siap menghadapi tantangan yang mungkin ditimbulkan oleh kenormalan baru belajar ini ?

Konsep normal baru terdapat pada kalimat seorang musisi Roger Mc Namee (2003) menggunakan kalimat singkat “The New Normal“ ini menjadi judul bukunya untuk menjelaskan suatu lingkungan di mana berbagai kemungkinan akan hadir bagi mereka yang mau bermain dengan aturan baru untuk jangka lama. Makna dari normal baru tidak boleh disederhanakan sebatas pelonggaran PSBB, pembukaan mall, pertokoan dan transportasi publik. Kenormalan baru memiliki makna yang lebih luas atau komprehensif dari pada sebatas kehidupan produktif dan bebas dari Covid-19..

Konsep “Normal Baru” (The New Normal) tentu saja berbeda dengan konsep “Normal Lama” (The Old Normal). Mengapa demikian?, dikhawatirkan kita salah paham memaknai normal baru tersebut, di mana normal baru dipahami kembali kepada pikiran, sikap, dan tindakan atau kebiasaan lama sebelum pandemik Covid-19. Faktanya, penulis sering mendengar pasca pandemik Covid-19 nanti, kehidupan kita kembali enak, karena kita akan kembali mengajar secara tatap muka, kembali berkumpul, orang tua tidak lagi disibukkan menemani atau membimbing anak-anaknya belajar di rumah, tidak lagi menggunakan masker yang selama ini dirasakan mengganggu pernapasan, dan setiap saat tidak lagi harus mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir yang dirasakan sangat merepotkan. Jika demikian, berarti kita belum berada di era normal baru melainkan kembali kepada tatanan kehidupan normal lama. Kembali pada tatanan kehidupan baru, ditanggapi beragam oleh masyarakat, ada yang pro dan kontra. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar, sepanjang diniatkan untuk kehidupan yang lebih baik dan dilakukan berdasarkan kajian ilmiah.

Kapan kembali sekolah? dibuka kembali pada pertengahan Juli 2020 atau ditunda bulan Januari 2021, atau kapan tentunya sangat dilematik sehingga menjadi perdebatan di masyarakat. Sebelum dimulainya tahun ajaran baru, guru, kepala sekolah, orang tua, dan siswa perlu berdiskusi bersama untuk mengevaluasi pelaksanaan belajar dari rumah. Terutama untuk menentukan, hal-hal apa yang harus dilanjutkan, dan apa yang harus diubah. Belajar jarak jauh ini bukan hanya pada penggunaan teknologi. Jangan sampai penggunaan teknologi hanya menggantikan tempat ceramah guru dari ruang kelas berpindah tempat melalui teknologi virtual.

Unsur-unsur yang lebih penting dalam menyiapkan proses belajar sekalipun dalam jarak jauh adalah upaya menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa lebih banyak mengalami (berbuat atau mengamati), melakukan interaksi, komunikasi, dan ada umpan balik dalam mengkonstruksi pengetahuan sehingga siswa dapat belajar secara bermakna. Belajar bermakna mengutip teori Ausubel (1963), berarti materi pembelajaran dikaitkan dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Di dalam pembelajaran, siswa mendapatkan materi-materi yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-harinya.

Perubahan ini pulalah yang semakin meneguhkan kita bahwa dalam belajar yang paling penting adalah pemberian pengalaman “PROSES” daripada penjejalan “KONTEN”. Siswa dibiasakan berproses mengambil keputusan sendiri. Mencoba cara sendiri dalam memecahkan masalah tanpa rasa takut salah. Terbiasa mencari cara lain bila suatu cara yang dipilih dianggap kurang efektif, dan sebagainya. Sehingga mereka akan terbiasa dalam menghadapi perubahan dalam hidupnya.