INFO TERKINI
28-10-2021
  • 4 bulan yang lalu / Pendaftaran Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2021/2022 (Jalur Zonasi) dimulai tanggal 28 Juni 2021
  • 4 bulan yang lalu / Pendaftaran Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2021/2022 (Jalur Afirmasi dan Perpindahan Tugas Orang Tua/Wali) dimulai tanggal 21 Juni 2021
2
Mar 2021
0
Pembiasaan LIMAS (5S) untuk Menumbuhkan Karakter

Latar Belakang

Senyum, salam, sapa, sopan, santun (LIMAS) merupakan hal yang mudah untuk kita lakukan. Akan tetapi terkadang kita enggan untuk melakukannya. Padahal budaya LIMAS merupakan salah satu cara penumbuhan karakter. Menurunnya budaya LIMAS tentu akan berakibat menurunnya karakter generasi penerus kita. Apalagi sekarang seiring dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang terus berkembnag sedemikian pesatnya ditambah adanya globalisasi semakin menurunkan karakter generasi kita.

Penumbuhan karakter melalui pembiasaan LIMAS harus kita lakukan sejak dini. Penumbuhan karakter bisa kita lakukan dengan cara yang mudah dan sederhana yaitu dengan menamamkan pembiasaan senyum, salam, sapa, sopan dan santun (LIMAS) kepada anak-anak kita. Sekolah, keluarga, masyarakat harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung penumbuhan karakter. Orang tua dan orang yang lebih dewasa harus bisa memberi contoh atau menjadi teladan bagi anak-anak. Jika orang tua atau orang yang lebih dewasa tidak bisa memberi contoh dengan membiasakan senyum, salam, sapa, sopan, dan santun maka akan bisa dipastikan budaya LIMAS akan luntur. Akibatnya karakter generasi penerus akan menurun. Karakter yang semakin luntur tentu akan membawa dampak negatif bagi bangsa kita.

Akhir-akhir ini sering kita dengar dan baca kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh remaja baik melalui media online maupun media cetak. Penyebab dari kenakalan remaja tentu tidak lepas dari menurunnya karakter generasi kita. Untuk itu kita perlu menanggulangi dan mengupayakan agar karakter generasi kita tidak luntur. Anak-anak perlu dibekali dengan karakter yang kuat agar tidak terjerumus ke dalam perilaku-perilaku yang negatif dan merugikan orang lain.Orang tua perlu atau orang yang lebih dewasa harus bisa menjadi teladan yang baik. Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun (LIMAS) perlu kita biasakan sejak dini atau ketika anak masih duduk di bangku SD. Diharapkan dengan pembiasaan dan keteladanan nantinya akan menjadi budaya sehingga tercipta generasi yang berkarakter dan berbudi pekerti yang luhur.

Diskripsi Aksi Nyata

Sebelum aksi nyata dilakukan, guru terlebih dahulu menjelaskan kepada anak melalui Google Meet tentang: pengaruh atau dampak negatif akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta globalisasi, makna dan pentingnya budaya positif, dan cara pengisian lembar format kegiatan LIMAS (senyum, salam, sapa, sopan dan santun). Sehubungan dengan masa pandemi dan anak-anak belajar di rumah (BDR), maka untuk mempermudah pengawasan dan pemantauan kegiatan LIMAS guru meminta anak untuk menuliskan kegiatan terkait dengan budaya LIMAS setiap harinya pada lembar kegiatan yang sudah diberikan dan disampaikan oleh guru. Lembar kegiatan pemantauan berisi tentang kegiatan anak terkait dengan penerapan LIMAS.

Ketika kegiatan aksi nyata berlangsung tidak ada kendala yang dialami anak. Anak bisa melakukan kegiatan aksi nyata dengan lancar dan tidak ada yang mengalami kesulitan. Kendala yang dialami terjadi ketika proses pegisisan format kegiatan. Untuk itu guru menjelaskan kembali dan memberi contoh cara pengisian format kegiatan LIMAS. Sebelumnya guru juga telah meminta kepada orang tua agar mendukung kegiatan LIMAS dengan memberikan teladan kepada putra-putrinya serta mengajak warga sekitar untuk juga berperan dalam kegiatan tersebut. Rspon orang tua sangat mendukung kegiatan tersebut dan siap untuk emberikan contoh atau teladan kegiatan LIMAS kepada putra-putrinya.

Keberhasilan, Kegagalan, dan Rencana Perbaikan

Kegiatan aksi nyata ini berjalan dengan lancar dan memberi banyak manfaat. Orang tua pun sangat mendukung kegiatan ini. Anak yang awalnya malu untuk menyapa dan tersenyum ketika bertemu atau berpapasan dengan orang lain akhirnya mulai membiasakan untuk tersenyum dan mulai menyapa terlebih dahulu. Selain itu juga mulai tumbuh kesadaran untuk membiasakan LIMAS ketika bertemu atau berpapasan dengan orang lain.

Di sisi lain, ketidakberhasilan aksi ini adalah beberapa anak belum paham cara untuk mengisi lembar kegiatan yang diberikan oleh guru. Kondisi pembelajaran yang masih BDR membuat pelaksanaan kegiatan aksi nyata ini tidak bisa terpantau langsung oleh guru, sehingga kemungkinan ada siswa yang tidak jujur dalam mengisi lembar kegiatan.

Rancangan perbaikan pada masa yang akan datang di antaranya: 1) Membuat format kegiatan yang mudah dipahami oleh anak; 2) Memberi beberapa contoh cara pengisisan format kegiatan; 3) Anak tidak hanya diminta untuk mengisi format kegiatan tetapi juga mengirimkan foto atau video terkait kegiatan LIMAS yang mereka lakukan dengan catatan kegiatan yang bisa difoto atau divideokan; 4) Guru perlu melakukan konfirmasi kepada orang tua terkait benar tidaknya format kegiatan yang diisi oleh anak. (Veni Widi Astuti (CGP Angkatan I) SD Negeri Trayu, Galur, Kulon Progo, DIY)